PERCAYA DENGAN TIDAK GENTAR
DASAR PEMIKIRAN Pdt. Marya Sri Hartati (GKJ Joglo) Menjadi percaya adalah sebuah proses. Demikian pula, mempertahankan kepercayaan juga memerlukan perjuangan. Ada banyak faktor yang mempengaruhi seseorang kehilangan rasa percaya, baik kepercayaan pada diri sendiri maupun kepercayaan pada orang lain. Yeremia sempat tidak percaya diri karena ia mengalami penolakan. Kepercayaannya kepada Allah yang mengutusnya sempat goyah pula, karena ia menemui banyak kesulitan. Namun, di penghujung refleksinya ia meyakini Tuhan senantiasa menyertainya. Keyakinan seperti itu pula yang hendak Yesus tanamkan kepada para murid ketika Ia mengutus mereka untuk mewartakan Injil ke lingkungan yang lebih luas. Mereka didorong untuk gigih melakukan tugas mereka sekalipun mengalami hambatan sesulit apa pun itu. Seringkali yang membuat seseorang sulit untuk percaya adalah interpretasinya sendiri terhadap peristiwa yang sedang dialami. Ketika ia menempelkan interpretasi yang buruk terhadap dirinya atau terhadap suatu peristiwa, maka itu pula yang cenderung ia yakini. Karena itu, memiliki keyakinan yang positif sangat diperlukan untuk menjaga konsistensi dalam melaksanakan tugas panggilan kita. Keyakinan kepada Tuhan Sang Pencipta, Sang Pengutus, dan Sang Penolong yang selalu menyertai umatnya sangat diperlukan agar kita dapat menuntaskan perjuangan hidup yang kita jalani. KETERANGAN BACAAN Yeremia 20:7-13 Yeremia adalah keturunan Abyatar, seorang imam Lewi dan salah seorang imam kepala pada zaman Raja Daud (1 Sam. 22:20, 2 Sam. 20:25). Ia berkarya pada saat bangsa Israel mengalami pergolakan hebat. Ia bernubuat kepada Bangsa Yehuda, mengingatkan mereka untuk bertobat dan menyampaikan berita penghukuman, karena umat tidak menaati Firman Allah. Dalam bagian Yeremia 20:7-13, kita dapat membaca bagaimana Yeremia berkeluh kesah menyampaikan betapa berat beban yang ia hadapi dalam memikul tanggung jawabnya sebagai seorang nabi yang mewartakan Firman Allah. Bukan hanya tubuhnya yang menderita, tetapi jiwanya juga terluka. Karena mewartakan Firman Tuhan, ia dipukul, dipasung, ditempatkan di suatu tempat yang tinggi sebagai bahan olok-olok (Yer. 20:2). Ia menjadi pribadi yang ditolak, diusir, dan dibenci oleh banyak orang. Yeremia mengungkapkan pertentangan di dalam batinnya, antara ingin menolak panggilan Tuhan untuk mewartakan Sabda-Nya atau tetap melakukan tugas perutusannya dengan segala konsekuensi penderitaan yang ia alami. Yeremia menutup keluh kesahnya dengan pengakuan bahwa Tuhan senantiasa menyertainya seperti pahlawan yang gagah. Tuhan menjagainya dari ancaman orang-orang yang berbuat jahat kepadanya (Yer. 20:11-13). Mazmur 69:7-10, 16-18 Berdasarkan keterangan dalam ayat 1, Mazmur ini diperuntukkan bagi para pemimpin biduan, menurut jenis lagu Bunga Bakung dari Daud. Dari keterangan ini, kemungkinan besar Mazmur ini digunakan untuk keperluan peribadatan pada masa itu. Mazmur 69 diawali dengan seruan permintaan tolong dari Pemazmur dalam ayat 2-5. Seruan itu disampaikan karena ia menghadapi situasi genting, sebab berhadapan dengan musuh yang membuatnya berada dalam situasi yang gelap, “tenggelam dalam lumpur terdalam”, penuh bahaya, terancam kematian, tertekan baik jiwa maupun raga. Dalam ayat 7-10, Pemazmur menyatakan penyerahan dirinya kepada Tuhan. Ia mengungkapkan bahwa penderitaan yang dialaminya, ia jalani dengan penuh kesadaran sebagai konsekuensi atas kesediaannya menjalankan tugas perutusan dari Allah. Dalam rangkaian ayat yang dituliskan, kita dapat merasakan ketegangan perasaan antara sukacita diutus dan dukacita menanggung akibat tugas perutusan itu. Hal tersebut menunjukkan keteguhan pemazmur untuk bertahan dalam iman percaya kepada Tuhan Sang Pengutus, sekalipun situasi yang dialami membuatnya menderita. Murid-murid Yesus teringat akan Mazmur 69:10a ini, ketika Yesus menyucikan Bait Allah di Yerusalem (Yoh. 2:17). Dampak dari peristiwa itu, celaan yang ditimpakan kepada Yesus semakin gencar, seperti yang ditulis dalam Maz. 69:10b. Roma 6:1-11 Paulus belum pernah pergi ke Roma. Namun, ia ingin berkunjung ke sana (Rom.1:10). Ia mendengar persoalan yang terjadi di jemaat Roma. Di sana terjadi perselisihan pendapat yang cukup tajam antara orang Kristen Yahudi yang menaati Taurat dan orang Kristen bukan Yahudi yang tidak berpegang pada Taurat. Kedua kelompok ini masing-masing merasa benar. Lalu, mana yang harus dianut? Hal tersebut menimbulkan kegelisahan di kalangan umat. Oleh karena itu, Paulus menuliskan surat ini untuk menengahi perselisihan tersebut. Mengawali suratnya, Paulus memperkenalkan dirinya (Rom. 1:8-15). Segera setelah itu, Paulus menekankan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya, baik orang Yahudi maupun Yunani (Rom. 1:16-17). Ia mengatakan bahwa semua orang dimungkinkan melakukan kesalahan di hadapan Allah (Rom. 1:18-3:20). Oleh karena itu, sesungguhnya manusia tidak benar di hadapan Allah, baik orang Yahudi maupun bukan Yahudi. Hanya oleh karena kasih-Nya manusia dibenarkan melalui salib Yesus Kristus. Dalam Roma 6:1-11 ditegaskan bahwa orang percaya tidak lagi dikuasai oleh belenggu dosa ataupun hukum Taurat. Oleh karena itu hendaknya mereka hidup sebagaimana orang merdeka. Mereka tidak perlu takut ataupun gentar, jika mereka memiliki iman percaya kepada Yesus. Matius 10:24-39 Bagian bacaan Injil ini merupakan bagian ketika Yesus mengutus kedua belas murid-Nya. Dalam bagian ayat-ayat ini, Yesus menjelaskan bahwa pengikut Yesus, mau tidak mau harus siap mengalami penderitaan. Jika Yesus mengalami penolakan dan aniaya, maka sebagai murid, mereka juga akan mengalaminya. Dengan perkataan ini, Yesus hendak menyiapkan mental para murid untuk menghadapi berbagai macam tantangan atau kesulitan di masa yang akan datang. Yesus tidak hanya memberitahukan kesusahan yang akan dihadapi, tetapi Yesus juga memberikan kekuatan dan penghiburan kepada para murid. Mereka diminta untuk melakukan tugas perutusan dengan percaya penuh pada pemeliharaan Tuhan. Mereka tidak perlu takut. Yesus mendorong para murid untuk gigih dan tidak gentar menghadapi berbagai hambatan. Yesus berkata, “Apa yang Kukatakan kepadamu dalam gelap, katakanlah itu dalam terang, dan apa yang dibisikkan ke telingamu, beritakanlah itu dari atas rumah” (Ay. 27). Artinya, Yesus mengutus agar para murid menyebarkan apa yang diajarkan oleh Yesus ke lingkungan yang lebih luas, secara terbuka, tidak lagi dengan diam diam dan takut. Jika Yesus mengajar di daerah Galilea dan sekitarnya, para murid diutus untuk menyebarkan Kabar Baik ke wilayah yang lebih luas. Hal ini mengingatkan kita pada tugas perutusan para murid ketika Yesus naik ke surga, yang dicatat dalam Kisah Para Rasul 1:8. Dalam melaksanakan tugas perutusan itu, para murid akan senantiasa dijagai. Yesus mengumpamakan seperti burung pipit yang tidak dibiarkan jatuh ke tanah. Mereka tidak akan luput dari perhatian Tuhan, dengan digambarkan bahwa Tuhan mengetahui jumlah helai rambut di kepala para murid. Para murid diminta untuk tidak gentar menghadapi berbagai penghambatan dan penolakan. Semua hambatan dan kesulitan itu adalah salib yang harus dipikul oleh para murid, sebagai pengikut Yesus. Mereka tidak akan menanggung salib itu sendirian, tetapi Tuhan akan menyertai mereka. POKOK DAN ARAH PEWARTAAN Ketika seseorang menghadapi kesulitan atau hambatan, sangat mungkin ia menjadi gentar, yaitu perasaan takut, ragu, dan gelisah. Seringkali perasaan ini muncul, justru karena interpretasinya sendiri terhadap peristiwa yang sedang dihadapi. Khotbah di minggu setelah Pentakosta ini hendak mengarahkan umat untuk memiliki keyakinan yang teguh pada cinta kasih dan penyertaan Tuhan sebagaimana dijanjikan Tuhan pada hari Pentakosta. Keyakinan ini kiranya dapat menjadi kekuatan bagi umat untuk melakukan tugas perutusannya. Dengan demikian, umat memiliki interpretasi yang tepat sesuai dengan firman Tuhan, sehingga umat dapat berpulih dari ketidakpercayaannya dan dapat menjalani hidup keseharian dengan berpengharapan.