Diakonia
Lembaga Kristen Sebagai Agen Penyalur Harapan
Minggu, 28 Juni
2026
Minggu
V setelah Pentakosta Minggu Biasa (Hijau) Bulan Kesaksian Pelayanan
TEMA PERAYAAN IMAN
Lembaga Kristen Sebagai Agen
Penyalur Harapan
TUJUAN:
· Umat didorong untuk menjadi umat
yang teguh dalam pengharapan dan menumbuhkan pengharapan
bagi orang lain
· Umat didorong untuk memberi dukungan
dan perhatian kepada lembaga-lembaga Kristen di bawah
naungan GKJ, agar kehadiran Lembaga-lembaga Kristen mampu menumbuhkan harapan bagi masyarakat melalui berbagai
karya nyata yang dilakukan
DAFTAR BACAAN
Bacaan I : Yeremia 28:5-9
Tanggapan : Mazmur 89:1-4, 15-18
Bacaan II : Roma 6:12-23
Bacaan Injil
: Matius 10:40-42 (Untuk keperluan Bulan Kesaksian dan
Pelayanan, bacaan yang digunakan adalah Yehezkiel 37:1-14/di luar leksionari)
DAFTAR AYAT LITURGIS
Berita Anugerah : Yeremia 29:11
Petunjuk Hidup Baru : Amsal 3: 5-6
Persembahan : Mazmur 107: 21-22
DAFTAR NYANYIAN LITURGIS
Bahasa
Indonesia
Nyanyian Pujian : NKB 34: 1, 2
Nyanyian Penyesalan : PKJ 40: 1, 2
Nyanyian Kesanggupan : KJ
424: 1, 2
Nyanyian Persembahan : KJ
387: 1 –
Nyanyian Pengutusan : PKJ 177: 1, 3
Bahasa
Jawa
Kidung Pamuji : KPJ 5: 1, 2
Kidung Panelangsa
: KPJ 58: 1, 2 Kidung Kesanggeman : KPJ123: 1-2
Kidung Pisungsung : KPJ 157: 1-3
Kidung Pangutusan : KPJ 339: 1, 2
|
Pdt. Wiji Astuti (GKJ Salatiga) |
DASAR PEMIKIRAN
Harapan adalah hal yang sangat
penting dalam hidup manusia. Harapan membuat manusia bertahan menghadapi
kehidupan, sekalipun hidup yang harus ditempuh penuh perjuangan dan
pengorbanan. Namun tak jarang, banyak orang mengalami patah harap, hidupnya
seperti tulang-tulang kering yang tidak berguna. Kondisi seperti itu bisa
disebabkan oleh banyak hal, misalnya: penderitaan yang berat dalam hidup secara
pribadi maupun dalam kehidupan bersama di tengah masyarakat, atau karena
berbagai persoalan dan kegagalan yang terus mendera sehingga rasanya tidak ada
lagi masa depan yang baik untuk kehidupan. Di tengah kondisi seperti itu,
banyak orang menjadi terpuruk, sulit
untuk bangkit, dan kehilangan harapan hidup.
Hidup orang beriman adalah hidup dalam naungan kasih dan kuasa Tuhan. Tuhan yang kita percayai adalah Allah yang Mahakasih dan mahasetia, yang tidak akan meninggalkan dan menegakan umat-Nya. Firman Tuhan Minggu ini menegaskan hal itu, bahwa Allah berkarya untuk membangkitkan harapan bagi umat-Nya. Di sisi lain, kita sebagai umat Tuhan juga dipanggil untuk menumbuhkan serta membangkitkan harapan bagi orang-orang atau masyarakat di sekitar kita. Termasuk Lembaga-lembaga Kristen milik GKJ, entah yang bergerak di bidang perekonomian, sosial, pendidikan atau kesehatan, kiranya juga semakin dimampukan untuk berkarya nyata serta menumbuhkan pengharapan nyata bagi masyarakat.
KETERANGAN
BACAAN
Yehezkiel 37: 1-14
Nabi Yehezkiel terkenal sebagai nabi
apokalyptis, yaitu nabi yang menyingkapkan sesuatu yang terselubung. Dialah
nabi yang amat banyak menerima vision/penglihatan dari Tuhan, tetapi
penglihatan dalam perikop yang kita saat ini adalah yang paling terkenal.
Kisahnya yang dialami mirip sebuah film horor. Awalnya Roh Tuhan membawa
Yehezkiel ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang yang berserakan.
Yehezkiel memutari lembah itu, tetapi yang hanyalah tulang-tulang berserakan,
yang sangat banyak dan amat kering.
Lalu sang nabi diperintahkan untuk bernubuat di hadapan tulang- tulang yang berserakan itu. Terdengarlah suara berderak-derak. Tulang-tulang yang serba terserak, sekarang mulai bergerak- gerak. Gemeretak! Dan tulang-tulang itu saling bertemu. Mengatur diri membentuk kerangka-kerangka yang utuh. Dan tiap-tiap kerangkan itu mulai menumbuhkan urat-urat, lalu daging, lalu kulit. Lengkap sudah! Lembah itu kini bersih dari tulang-tulang dan menjadi kelihatan penuh dengan orang-orang. Tetapi sebenarnya itu bukan orang-orang, tetapi mayat-mayat, sebab semuanya masih serba tidak bergerak.
Lalu Yehezkiel pun bernubuat lagi. Kemudian seperti desir angin, nafas hidup dari keempat penjuru menghembus. Mayat-mayat itu mulai bergerak-gerak. Kaki-kaki mereka berderak-derak seperti barisan tentara. Itulah karya Roh Tuhan melalui penglihatan Yehezkiel. Yang dilihat Yehezkiel melalui tulang-tulang itu sebenarnya adalah bangsa Israel, yang sedang terserak-serak dan terpecah-pecah, jauh dari Bait Allah, jauh dari tanah tercinta. Kehidupan Israel dalam pembuangan di Babel itu digambarkan seperti tulang-tulang kering yang berserakan. Selain disebutkan keadaannya yang amat kering, tulang itu juga berserakan. Ini menunjukkan sebuah keadaan, sekalipun jumlahnya banyak tetapi terpisah satu dengan yang lain, tidak bisa saling berhubungan, tidak bisa saling menopang dan menguatkan. Seperti tulang-tulang yang kering, mereka sungguh-sungguh tidak berdaya melakukan apa- apa selain hanya dibuang atau akhirnya membusuk. Itulah keadaan Israel yang patah harap kering seperti tulang. Tetapi melalui penglihatan Yehezkiel, nampak bahwa Roh Tuhan bekerja. Roh Tuhan membuat tulang-tulang yang berserakan itu menjadi kesatuan, bahkan mejadi kehidupan. Ini adalah nubuat bahwa Allah akan memulihkan keadaan Israel yang sudah terpuruk itu. Israel akan dibangkitkan, dipulihkan dan dihidupkan lagi. Dan inilah yang membuat Israel kembali memiliki harapan dan semangat di dalam hidup mereka.
POKOK
DAN ARAH PEWARTAAN
Di Minggu ke-4 Bulan Kesaksian dan
Pelayanan tahun 2026 ini, Badan Pelaksana Sinode GKJ XXIX melalui Bidang
Kesaksian dan Pelayanan memberikan perhatian secara khusus terhadap kehadiran
dan peran dari Lembaga-lembaga Kristen yang berada di bawah naungan GKJ. Di
tengah kehidupan yang penuh pergumulan dan penderitaan, banyak orang yang patah
harap dan membutuhkan pemulihan hidup. Umat Tuhan yang menjadi bagian dari
masyarakat bangsa Indonesia, juga tidak lepas dari situasi seperti ini. Di
sinilah kita sebagai umat Tuhan yang hidup di tengah masyarakat, didorong untuk
mampu membawa serta menumbuhkan pengharapan bagi orang-orang di sekitar kita.
Kita akan mampu membawa dan menumbuhkan pengharapan jika ada Sumber
Pengaharapan di dalam hidup kita. Sebab jika kita sendiri patah harap,
bagaimana mungkin kita bisa membawa dan menumbuhkan
harapan bagi orang lain? Oleh karena itu, pengikut Kristus sebagai umat percaya didorong untuk senantiasa mengikutsertakan Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, serta meyakini kasih kuasa-Nya yang mampu memulihkan hidup. Dari situ, maka kita bisa berkarya nyata, membawa dan menumbuhkan pengharapan bagi masyarakat. Lembaga-lembaga Kristen adalah bagian dari karya nyata kita sebagai umat percaya, yang menyatakan kesaksian dan pelayanan, untuk membawa dan menumbuhkan pengharapan.
|
KHOTBAH JANGKEP BAHASA INDONESIA |
MENUMBUHKAN PENGHARAPAN
Bisakah kita hidup tanpa harapan? Apa arti hidup ini jika sudah kehilangan harapan?” Kata Pramoedya Ananta Toer, “Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong.” Lebih spesifik lagi Harold Lee Lindsey juga menuliskan bahwa: “Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara. Tapi hanya 1 detik jika tanpa harapan.” Jadi menurut pendapat tersebut pengharapan adalah suatu hal yang esensial, sangat penting dan mendasar bagi hidup kita. Betulkah?
Terkait dengan hal ini, ada kisah tentang seorang doktor dari sebuah Universitas di Amerika yang pernah meneliti efek dari pengharapan pada tubuh manusia. Ia menemukan bahwa bila seseorang memiliki pengarapan, ia menjadi mampu mengatasi penderitaan yang berat atau hukuman yang kejam. Dalam penelitiannya, ia menginvestigasi 25 ribu tentara Amerika yang dipenjara oleh Jepang pada jaman Perang Dunia II. Di dalam kondisi yang mengerikan di mana mereka diperlakukan tanpa perikemanusiaan, banyak yang meninggal dan hampir semuanya jatuh sakit. Tetapi ia menemukan beberapa orang yang tetap bertahan dalam menghadapi penindasan tersebut, karena ada pengharapan. Ternyata, ketika di penjara, mereka memikirkan kekasihnya, merencanakan pernikahannya, atau memikirkan bertemu kembali dengan keluarganya dalam kebahagiaan. Doktor ini menyimpulkan bahwa pengharapan telah membuat keadaan mereka baik-baik, bahkan membuat mereka “hidup”. Jadi harapan mampu membuat manusia tetap optimis memandang kehidupan ini, tetap tegar dan semangat menjalani hidup sekalipun di tengah berbagai tekanan dan kesulitan. Seperti yang dialami oleh para tentara tadi, penderitaan yang berat dan bertubi-tubi seringkali juga membuat kita patah harap. Ketika menderita sakit dalam waktu yang lama, sudah berobat dan tekun berdoa namun sakit tidak sembuh-sembuh, di situlah orang lalu kehilangan pengharapan hidup atau ketika kita mengalami masalah yang datang silih berganti. Biasanya orang lalu merasa tidak kuat lagi melanjutkan hidupnya, dan akhirnya juga kehilangan pengharapan hidup. Kondisi seperti itu juga dialami oleh bangsa Israel sebagaimana dikisahkan dalam Yehezkiel 37: 1-14.
Jika kita perhatikan, kisah dalam Yehezkiel 37: 1-14 tersebut mirip sebuah film horor. Awalnya Roh Tuhan membawa Yehezkiel ke sebuah lembah yang penuh dengan tulang-tulang yang berserakan. Yehezkiel memutari lembah itu, tetapi yang ada hanyalah tulang- tulang berserakan, yang sangat banyak dan amat kering. Lalu sang nabi diperintahkan untuk bernubuat di hadapan tulang- tulang yang berserakan itu. Terdengarlah suara berderak-derak. Tulang-tulang yang serba terserak, sekarang mulai bergerak- gerak. Gemeretak! Dan tulang-tulang itu saling bertemu. Mengatur diri membentuk kerangka-kerangka yang utuh. Dan tiap-tiap kerangka itu mulai menumbuhkan urat-urat, lalu daging, lalu kulit. Lengkap sudah! Lembah itu kini bersih dari tulang-tulang dan menjadi kelihatan penuh dengan orang-orang. Tetapi sebenarnya itu bukan orang-orang, tetapi mayat-mayat, sebab semuanya masih serba tidak bergerak. Lalu Yehezkiel pun bernubuat lagi. Kemudian seperti desir angin, nafas hidup dari keempat penjuru menghembus. Mayat-mayat itu mulai bergerak-gerak. Kaki-kaki mereka berderak-derak seperti barisan tentara. Itulah karya Roh Tuhan melalui penglihatan Yehezkiel.
Yang dilihat Yehezkiel melalui tulang-tulang itu sebenarnya adalah bangsa Israel, yang sedang terserak-serak dan terpecah-pecah, jauh dari Bait Allah, jauh dari tanah tercinta. Kehidupan Israel dalam pembuangan di Babel itu digambarkan seperti tulang- tulang kering yang berserakan. Selain disebutkan keadaannya yang amat kering, tulang itu juga berserakan. Ini menunjukkan sebuah
keadaan, sekalipun jumlahnya banyak tetapi terpisah satu dengan yang lain, tidak bisa saling berhubungan, tidak bisa saling menopang dan menguatkan. Seperti tulang-tulang yang kering, mereka sungguh-sungguh tidak berdaya melakukan apa-apa selain hanya dibuang atau akhirnya membusuk. Itulah keadaan Israel yang patah harap kering seperti tulang. Tetapi melalui penglihatan Yehezkiel, nampak bahwa Roh Tuhan bekerja. Roh Tuhan membuat tulang-tulang yang berserakan itu menjadi kesatuan, bahkan menjadi kehidupan. Ini adalah nubuat bahwa Allah akan memulihkan keadaan Israel yang sudah terpuruk itu. Israel akan dibangkitkan, dipulihkan dan dihidupkan lagi. Dan inilah yang membuat Israel kembali memiliki harapan dan semangat di dalam hidup mereka.
Kasih, kuasa dan pertolongan Tuhan akan kembali menumbuhkan pengharapan hidup mereka. Dalam kehidupan yang tidak lepas dari tantangan, persoalan dan berbagai pergumulan, kita pun kadang seperti Israel yang patah harap. Seperti tulang-tulang yang kering, rasanya kita tidak lagi memiliki daya kekuatan untuk bangkit dan melanjutkan kehidupan. Namun Firman Tuhan meneguhkan kita bahwa kita memiliki Tuhan Allah yang Mahakasih dan Mahasetia, yang tidak akan menegakan dan meninggalkan kita. Tuhan berkenan dan berkuasa untuk memulihkan hidup kita. Roh Tuhan akan bekerja dalam diri dan kehidupan kita, untuk menghidupkan semangat yang mati, menumbuhkan harapan yang patah, dan memberikan masa depan yang indah. Jika hal itu kita yakini dengan sungguh, maka kita akan menjadi umat-Nya yang teguh dalam pengharapan dan bahkan mampu menumbuhkan harapan bagi orang-orang di sekitar kita.
Mari kita perhatikan kehidupan masyarakat kita saat ini. Banyak orang yang patah harap karena kehilangan pekerjaan, didera sakit penyakit, kesulitan ekonomi, tidak dipedulikan oleh orang lain bahkan oleh keluarganya sendiri. Jadi bukan hanya orang Kristen yang mengalami kehidupan seperti tulang-tulang yang kering. Masyarakat di sekitar kita pun mengalami dan merasakan hal itu. Di tengah situasi kehidupan yang seperti ini, kita sebagai umat Tuhan dipanggil untuk tidak hanya berdiam diri dan memikirkan diri sendiri. Tuhan memanggil kita untuk berkarya nyata, melalui berbagai karya kesaksian dan pelayanan yang kita lakukan secara pribadi maupun melalui program-program Gereja, termasuk melalui Lembaga-lembaga Kristen di bawah naungan GKJ, baik yang bergerak di bidang pendidikan, sosial, perekonomian maupun kesehatan. Lembaga-lembaga Kristen ini adalah bagian dari karya nyata kita sebagai umat percaya. Mari kita bersatu, saling mendukung dan melengkapi, berkarya nyata menghadirkan kasih dan kuasa Tuhan, serta menumbuhkan pengharapan bagi masyarakat di sekitar kita. Tuhan memberkati Amin
KHOTBAH JANGKEP
BAHASA JAWA
NUWUHAKEN
PANGAJENG-AJENG
Punapa kita saged gesang tanpa pangajeng-ajeng? Pangajeng- pangajeng punika satunggaling prekawis ingkang wigati sanget tumrap gesanging manungsa. Mila boten nggumun menawi wonten ingkang ngendika bilih pangajeng-ajeng punika modal utami kangge gesang. Pramoedya Ananta Toer nelakaken bilih, “Hidup tanpa harapan adalah hidup yang kosong – Gesang tanpa pangajeng-ajeng punika gesang ingkang kothong utawi nglaha.”. Langkung mirunggan malih, satunggaling tiyang ingkang asmanipun Harold Lee Lindsey ugi nyerat bilih “Manungsa saged gesang 40 dinten tanpa nedha, wetawis 3 dinten tanpa ngombe, 8 menit tanpa udara. Nanging tanpa pangajeng- pangajeng, ing sadangunipun wekdal 1 detik kemawon tiyang saged mungkasi gesangipun”. Dados, pangajeng- ajeng punika saestu penting tumrap gesanging manungsa. Punapa leres mekaten?
Gegayutan kaliyan bab punika, wonten cariyos bab satunggaling Doktor saking Universitas ing Amerika ingkang nate ngawontenaken panaliten bab daya pangariwabanipun pangajeng-ajeng tumrap badan manungsa. Doktor punika manggihaken bilih menawi tiyang nggadhahi pangajeng-ajeng, tiyang punika saged ngatasi panandhang ingkang awrat utawi paukuman ingkan kejem. Panaliten punika katindakaken kanthi menginvestigasi 25 ewu tentara Amerika ingkang kinunjara dening Jepang nalika Perang Dunia II. Ing salebeting kawontenan ingkang mrihatosaken sanget, ing pundi para tentara ngraosaken pametek saha panindhes ingkang awrat, kathah ing antawasipun tentara punika ingkang tilar donya lan meh sedaya nandhang sakit. Nanging Doktor punika manggihkan sawetawis
tiyang ingkang saged bertahan ngadhepi panindhes punika, karana nggadhahi pangajeng-ajeng. Nalika kinunjara, tiyang punika mikiraken pacanganipun, ngrancang badhe sesemahan, utawi ngadhahi pengangen-angen badhe saged pinanggih brayatipun malih kanthi kabingahan. Bab-bab punika jebul saged nuwuhaken pangajeng-ajeng ing manah. Wosipun, pangajeng-ajeng saged ndadosaken tiyang tetep nggadhahi kekiyatan saha greget anggenipun nglampahi gesang punika, sinaosa kedah ngadhepi mawarni-warni prekawis ingkang awrat lan mrihatosaken.
Kados ingkang dipunalami dening para tentara ing cariyos wau, panandhang ingkang awrat ingkang kita alami ing wekdal ingkang dangu, saged ndadosaken kita semplah lan nglokro lajeng kecalan pangajeng-ajeng. Umpaminipun: Nalika sakit sampun dangu, sampun mbudidaya pados tamba, sampun ndedonga, eh sakitipun boten mantun-mantun. Utawi nalika tiyang ngalami masalah ingkang lir gumantos, masalah setunggal dereng rampung wonten masalah malih ingkang ndadosaken momotan gesangipun sangsaya awrat. Tiyang punika lajeng rumaos boten kiyat malih nglajengaken gesangipun, lan kecalan pangajeng-ajeng. Wonten ugi tiyang ingkang katilar dening tiyang ingkang dipuntresnani, lajeng kecalan semangat saha pangajeng-ajeng awit rumaos gesangipun tanpa gina malih. Lan kathah prekawis gesang sanesipun ingkang saged ndadosaken tiyang lajeng kecalan ing pangajeng-ajeng. Bab ingkang kados mekaten ugi dipun alami dening bangsa Israel minangka umat kagunganipun Gusti, kados ingkang kacariyosaken ing Kitab Yehezkiel 37: 1-14 ingkang kita waos kalawau.
Kacariyosaken bilih kala semanten nabi Yehezkiel kairid dening Rohipun Gusti tumuju ing lembah ingkang kebak balung ingkang sampun sami garing lan sumebar. Kawontenan ingkang kados mekaten nggambaraken kawontenaning bangsa Israel ingkang nembe nandhang sangsara lan raosipun sampun boten nggadhahi pangajeng-ajeng malih. Kenging punapa? Awit kala semanten bangsa Israel taksih kabucal lan ngalami pangawulan ing Babel. Tiyang- tiyangipun sami sumebar lan kithanipun sampun dados jugrugan. Bangsa punika saestu ngraosaken panandhang ingkang awrat. Ing satengahing panandhang ingkang kados mekaten, Gusti paring kesagedan dhateng Yehezkiel kangge medhar wangsit. Balung- balung ingkang sami garing lan sumebar punika lajeng sami nglempak. Nuli wonten otot lan daging ingkang tuwuh ing balung- balung wau. Sasampunipun punika lajeng katutup kulit lan kaparingan Roh ingkang ndadosaken balung-balung wau gesang malih. Lelampahan ingkang dipuntingali saha dipunalami dening Yehezkiel punika dumados awit panguwaosipun Gusti, lan punika nggadhahi makna ingkang lebet tumrap gesangipun bangsa Israel minangka umat kagunganipun Gusti.
Karana awrating panandhang lan kasangsaran ingkang karaosaken dening bangsa Israel, bangsa punika ngraosaken kawontentanipun kados dene balung-balung ingkang sami dados garing lan sampun boten nggadhahi pangajeng-ajeng gesang. Kados-kados gesangipun sampun sirna lan namung tumuju dhateng pepejah. Nanging karana panguwaosipun Gusti lumantar pakaryaning Roh, balung-balung ingkang garing kalawau katangakekaken, dados gesang malih. Punika dados gegambaran bilih Gusti boten badhe negakaken gesanging para umat kagunganipun. Gusti ingkang mahakuwaos saha maha tresna badhe nuwuhaken pangajeng-ajeng tumrap bangsa Israel, awit kanthi Rohipun Gusti badhe nuwuhaken kekiyatan saha nangekaken gesangipun bangsa Israel. Bangsa Israel badhe kaentas saking panandhangipun lan badhe kapulihaken malih kawontenanipun. Katresnan saha kasetyanipun Gusti saestu badhe mulihaken gesangipun bangsa Israel. Bab punika ingkang ndadosaken bangsa Israel nggadhahi greget malih kangge nglajengaken gesangipun. Pangajeng-ajeng ingkang sampun pepes lan kados-kados sampun pejah, tuwuh malih.
Gesang kita samangke ugi boten uwal saking mawarni-warni prekawis, pepalang saha panandhang. Kadosdene bangsa Israel, sedaya punika ugi saged ndadosaken semplah ing manah lan pepes ing pangajeng-ajeng. Kadosdene balung-balung ingkang garing, kita rumaos kados-kados kita boten nggadhahi daya kekiyatan malih kangge gumregah lan nglajengaken gesang. Nanging pangandikanipun Gusti saking Yehezkiel 37 kalawau saestu ngiyataken kita bilih kita nggadhahi Gusti Allah ingkang Mahatresna saha Mahasetya, Gusti ingkang boten badhe negakakan saha nilar kita minangka para umat kagunganipun. Gusti Allah kersa lan kagungan panguwaos kangge paring pemulihan tumrap gesang kita. Rohipun badhe makarya kangge kita, nggegesang semangat, nuwuhaken pangajeng- ajeng
ingkang semplah, sarta maringaken masa depan ingkang endah. Menawi kita saestu pitados, kita badhe saged nglampahi gesang punika minangka umatipun Gusti ingkang tatag tanggon lan kebak pangajeng-ajeng. Lan ing sisih sanes, kita ugi kasagedaken nuwuhaken pangajeng-ajeng tumrap sesami ing sakiwa tengen kita.
Mangga kita gatosaken kawontenanipun masyarakat lan bangsa kita samangke. Boten namung tiyang Kristen ingkang kawontenanipun kados balung-balung garing. Nanging kathah ugi tiyang ing sakiwa tengen kita ingkang nglokro lan semplah manahipun awit kecalan pedamelan, nandhang sesakit, angel nyekapi kabetahan sadinten-dinten, boten dipungatosaken dening tiyang sanes lan ugi brayatipun, lan sanes-sanesipun. Ing satengahing kawontenan gesang ingkang kados mekaten, kita minangka umat kagunganipun Gusti katimbalan boten namung pados eco lan sekeca tumrap dhiri pribadi, boten namung migatosaken kabetahan piyambak, nanging sageda ugi dados duta utawi utusanipun Gusti ingkang mbabar katresnan, berkah saha pitulunganipun Gusti. Bab punika saged kita tindakaken lumantar mawarni-warni prekawis lan pakaryan peladosan saha paseksi ingkang kita tindakaken sacara pribadi utawi lumantar program kegiatan Gereja. Kalebet ugi lumantar bebadan utawi lembaga-lembaga Kristen ing sangandhaping Sinode GKJ, dadosa ingkang lelados ing babagan pendidikan, sosial, ekonomi, uwawi kesehatan. Bebadan utawi lembaga-lembaga Kristen punika ugi peranganing pakaryan kita minangka umatipun Gusti. Sumangga kita nyatunggil ing tekad lan pakaryan, supados kita saged nelakaken katresnan saha panguwaosipun Gusti ingkang nyata, ingkang saged nuwuhaken pangajeng-ajeng tumrap masyarakat ing sakiwa tengen kita. Gusti mberkahi. Amin.