Paskah

Iman Yang Lentur Tak Akan Gugur

Pdt. Wiji Astuti · May 17, 2026

Iman Yang Lentur Tak Akan Gugur

Bacaan leksionari pada Minggu Paskah VI ini menunjukkan masa transisi dari Paskah menuju Pentakosta, dari kebangkitan menuju pencurahan Roh. Di masa transisi tersebut tentunya umat Tuhan membutuhkan kemampuan untuk bertahan tetap setia. Daya tahan yang diperlukan tentu saja bukan daya tahan yang kaku tetapi daya tahan yang lentur. Apa yang dapat kita lakukan sebagai orang percaya? Pada Minggu Paskah VI ini kita diajak untuk bertahan, menunggu, belajar, dan menyesuaikan diri sebagai proses kita beriman kepada Allah dengan berporoskan pada “Kebangkitan Kristus” dan pengharapan pada kedatangan-Nya kembali. Pertanyaannya, bagaimana kita bisa beriman secara “lentur” di masa ini? Melalui tema hari ini, kita akan diajak memiliki iman yang adaptif, dan bukan iman yang “liar”.


TAFSIR LEKSIONARIS

Kisah Para Rasul 17:22-31 Kisah Rasul Paulus di kota Athena adalah kisah yang sangat menarik. Athena adalah kota besar dengan keberagamannya, termasuk keberagaman religiositas. Sebagai Pemberita Injil, Rasul Paulus menyikapi keberagaman religiositas tersebut dengan sikap yang sangat bijaksana. Ia tahu bahwa banyak orang menyembah berbagai macam dewa dan hidup dengan menggunakan hikmat dari banyak ilmu filsafat yang mereka pelajari. Namun setelah Paulus mengamati, bahkan berinteraksi dengan mereka, ia bukan menghakimi penyembah-penyembah itu atau menyerang religiositas mereka yang berbeda.


Melainkan, ia menggunakan konsep pemujaan yang mereka lakukan, untuk menjelaskan kepada mereka tentang karya Allah. Dengan hasil pengamatan Paulus tentang mezbah “bagi Allah yang tidak dikenal” inilah ia menjelaskan tentang cara orang-orang di Athena memberikan persembahan kepada patung dewa-dewa yang berasal dari emas/perak. Ini berarti, Paulus mulai pemberitaan Injil Yesus Kristus, melalui apa yang masyarakat sudah alami di dalam keseharian mereka, lalu menggunakan pengalaman itu untuk membicarakan konsep Allah yang tidak mereka kenal. Dalam pemberitaannya, Paulus menjelaskan bahwa Allah yang Paulus kenal adalah Allah yang melebihi patung emas/perak buatan manusia karena Allah yang Paulus kenal, justru adalah Allah yang menciptakan segala sesuatu yang ada di dunia ini.


Sehingga Allah Pencipta dunia itu, tidak bergantung pada manusia ciptaan-Nya. Sebaliknya, manusialah yang sangat bergantung pada Allah yang menyediakan segala sesuatu bagi manusia. Dalam penjelasannya, Paulus juga mengutip dua puisi. Puisi pertama, kemungkinan besar ditulis oleh Epimendides dari Kreta, dan yang kedua ditulis oleh Aratus dari Kilikia (ayat 28, 29). Keduanya menceritakan tentang hakikat relasi antara Sang Pencipta dan ciptaan. Allah yang hidup, mencipta manusia yang hidup. Allah Sang Pencipta itu benar-benar hidup, dan bukanlah allah yang terbuat dari benda mati. Para pemikir filsafat tentu sangat memahami logika ini. Di akhir dari penjelasannya, Paulus menerangkan juga tentang kebangkitan Anak Manusia sebagai bagian dari karya keselamatan Allah di hari penghakiman. Para pemikir filsafat tentu mengalami kesulitan untuk menerima bagian ini. Tidak heran beberapa orang mulai mengejek dan menganggap remeh ajaran Paulus. Namun demikian, Paulus tidak memaksa mereka memahami argumen-argumen apologetisnya.


Sehingga jelaslah, jika ada orang-orang yang tergerak hatinya untuk mengikuti Allah yang Paulus percayai, tetapi sebagian lagi tetap mengikuti Allah yang tidak dikenal itu. Menakjubkannya, Paulus sebagai pekabar Injil pastinya menguasai dengan benar apa yang dia imani sehingga dengan hikmat Tuhan, dia juga mampu “membahasakan” imannya itu, kepada para pemikir filsafat Yunani. Terlihat sekali kelenturan Paulus dalam mengamati konteks, budaya dan pemikiran orang Yunani, dan untuk selanjutnya menggunakan itu semua untuk menjelaskan iman Kristen, dengan tetap menjunjung tinggi inti dari Injil yang dia beritakan.


Ketangkasan Paulus dalam menjelaskan imannya kepada orang-orang Yunani menjadi teladan bagi kita di masa ini dalam melakukan pendekatan dialogis juga kepada umat yang memiliki beragam pemikiran. Mazmur 66:8-20 Lembaga Alkitab Indonesia memberikan judul Mazmur ini dengan Nyanyian Syukur Karena Orang Israel Tertolong dan isinya memang sangat sesuai dengan judul tersebut. Puji-pujian kepada Allah Sang Pembebas, Penyelamat, dan Penolong diucapkan seiring dengan pengakuan akan kondisi berat yang dialami oleh Pemazmur (dalam pengalaman individu maupun komunal). Bahkan disebutkan bahwa Allah yang menguji umat dengan mengizinkan umat-Nya mengalami kesesakan. Akan tetapi langsung ditimpali dengan pernyataan akan karya pembebasan-Nya kepada umat. Hal ini membuat nyanyian Mazmur terasa sangat riang dalam pujian tanpa menghilangkan kejujuran akan situasi berat yang dialami.


Kesaksian Pemazmur yang sangat jujur ini menunjukkan bahwa ketangkasan umat dalam penderitaan dan kesesakan adalah kesetiaan untuk tetap berpegang pada janji penyelamatan Allah. Tidak menyangkal penderitaan, tetapi tidak meninggalkan Allah dan tetap setia, tetap memuji meskipun melewati air dan api. Ketangkasan rohani yang hendak disampaikan oleh Pemazmur adalah bagaimana bertahan dalam penderitaan tanpa menjadi pahit dan putus asa. 1 Petrus 3:12-22 Petrus mengajak umat untuk hidup dalam kebaikan dan kebenaran meskipun mengalami tuduhan, fitnah, dan tekanan sosial. Iman harus tetap disuarakan, tetapi dengan cara yang etis dan penuh kasih. Ini pesan yang sangat kuat dan tegas: meskipun tertekan jangan agresif dan defensif, tetapi merespons dengan bijaksana dan lembut. Bahkan dalam ayat 17 ia mengatakan “Sebab lebih baik menderita karena berbuat baik, jika hal itu dikehendaki Allah, dari pada menderita karena berbuat jahat.” Menderita lebih baik daripada harus hidup di luar kebenaran dan kebaikan sehingga menjadikannya bukan sekedar pilihan tetapi keharusan hidup orang percaya.


Meskipun harus memilih menderita dalam kebaikan, Petrus memberikan sebuah penguatan yang menjadi poros dari iman, yakni kebangkitan Kristus. Kebangkitan Kristus menguatkan orang percaya agar tetap hidup dalam kebaikan dan kebenaran apa pun keadaannya. Keberanian untuk terus menyuarakan dan mewujudkan iman dengan cara yang penuh hikmat dan kasih merupakan ciri ketangkasan iman. Iman tidak perlu dibela sedemikian rupa hingga menyakiti orang (yang berbeda sekalipun), iman hanya perlu ditunjukkan sehingga orang lain bisa melihat sendiri bagaimana karya penyelamatan Allah yang sesungguhnya.


Yohanes 14:15-21 Yohanes 14:15-21 adalah bagian dari pidato perpisahan Yesus dengan para murid sebelum Ia memasuki masa sengsara dan kematian-Nya sehingga jika dibaca secara begitu dalam akan bernada sangat emosional. Kata-kata perpisahan-Nya tidak hanya sekadar bersifat emosional yang mengharu biru saja, tetapi juga mengandung pengharapan yang menguatkan para murid-Nya. Melalui perkataan ini Yesus sedang membangun kesiapan dan ketangkasan para murid dengan Roh sebagai dayanya. Kasih dan ketaatan adalah dua hal yang diperlukan dalam menghadapi perubahan radikal. Di tengah-tengah rasa cemas, bingung, dan takut kehilangan, dibutuhkan sebuah sikap yang tenang dalam kasih sehingga dapat memilih untuk tetap setia pada iman. Kasih dan ketaatan membuat arah hidup tetap jelas meski keadaan sedang kacau sekalipun. Kasih menjadi arah yang mengikat dan bukan aturan yang membelenggu. Inilah mengapa Yesus menyebutkan janji tentang Parakletos (Penolong, Pembela, Penghibur, Pendamping) yang bekerja dari dalam ke luar. Parakletos menunjuk bukan pada figur yang kaku, tetapi pada daya dari Allah, yang melalui Kristus Ia dinyatakan. Sehingga meskipun sosok Yesus Kristus secara fisik tidak ada lagi, itu tidak mengurangi kesempurnaan karya Nya. Dengan Parakletos, para murid tetap merasa dimiliki dan tidak ditinggal.


Ketangkasan iman para murid tumbuh dari rasa aman di dalam relasi dengan Kristus dan Bapa. Yang lebih mendalam lagi, Yesus bicara tentang kebangkitan. Kebangkitan-Nya menjadi poros dari iman dan sumber kehidupan para murid. Ketangkasan para murid dibentuk bukan sebagai cara bertahan hidup dengan upaya seadanya, tetapi partisipasi penuh dalam karya kehidupan dan kebangkitan Kristus. Inilah inti dari kata-kata Kristus kepada para murid yang bukan hanya sekedar menghibur saja tetapi juga memberikan sebuah kebenaran ilahi akan daya hidup di dalam-Nya. Ketangkasan rohani bukan kemampuan manusia menyesuaikan diri, melainkan karya Roh Kudus yang menumbuhkan iman yang berakar pada kasih, aman dalam relasi, dan peka terhadap kehadiran Kristus yang hidup.


BERITA YANG AKAN DISAMPAIKAN

● Jemaat dapat memahami tentang iman yang lentur dalam perubahan-perubahan radikal dan kondisi yang tidak menentu.

● Jemaat memaknai imannya yang lentur di dalam kebangkitan Kristus sebagai daya tahan sekaligus daya juang untuk terlibat dalam karya nyata di tengah dunia ini.

● Jemaat dapat menghidupi ketangkasan-ketangkasan rohani di dalam kelenturan imannya tanpa kehilangan identitasnya sebagai para murid yang dimiliki oleh Allah.

Khotbah Terkait

← Back to Sermons