Bahan  June 25, 2026

Bahan PPA Lukas 1:11-19

Diakonia, Kasih Membangkitkan dan menghidupkan harapan

Lukas 17: 11-19

 

 

Tujuan;

1.     Jemaat memahami bahwa salah satu panggilannya berdiakonia, peduli pada kaum lemah dan membangkitkan harapan bagi mereka.

 

Pengantar

Secara umum harapan adalah keyakinan yang teguh. Dalam iman Kristen harapan dapat berarti keyakinan teguh yang didasarkan pada karakter dan janji Allah, bukan pada situasi atau kemampuan manusia. Oleh karena itu harapan menjadi salah satu daya atau kekuatan. Seseorang yang kehilangan atau tidak memiliki harapan dapat dikatakan seseorang tersebut kehilangan daya atau kekuatan. Seseorang yang kehilangan harapan atau tidak memiliki harapan dapat dipastikan ia akan memiliki perasaan tidak berdaya, mudah goyah, terobang ambing, tanpa arah, mudah dibawah arus. Secara praktis seseorang yang kehilangan harapan akan mudah dipengaruhi, ditindas, marah, kecewa, melakukan kejahatan sampai kepada putus asa. Saat ini ada banyak sekali orang yang kehilangan harapan, merasa tidak berdaya, tidak berdaya guna, tidak bahagia, marah, kecewa, hingga akhirnya putus asa dan melakukan banyak kejahatan atau penyimpangan karena tidak tahu apa yang harus diperbuat. Harapan harus ditumbuhkan, dihidupkan atau bahkan dibangkitkan, agar seseorang bahkan kelompok masyarakat memiliki daya atau kekuatan untuk berkarya dan mampu bersukacita dalam kehidupannya.

 

Pemahaman Singkat Lukas 17:11-19

 

Penulis injil Lukas adalah seorang tabib atau dokter yang menjadi sabahat Paulus dalam pemberitaan injil. Namanya disebutkan dalam kolose 4:14. Dalam pasal 1 injil Lukas ia menekankan alasan menulis peristiwa kisah pelayanan dan pengajaran Yesus. Yaitu untuk meyakinkan pembacanya agar menjadi percaya kepada Yesus Kristus. Dalam pembacaan ini Lukas menuliskan Kisah Yesus dalam perjalanannya ke Yerusalem, dimana Yesus melewati perbatasan Samaria dan Galilea. Perbatasan ini tidak hanya bermakna tentang pemisahan suatu wilayah secara geografis, tetapi dalam pembacaan ini dapat bermakna pemisahan antara Yahudi dan orang Samaria secara sosial. Yahudi dan Samaria sekalipun memiiliki hubungan kekerabatan, tetapi mereka tidak saling bergaul, seperti yang tertulis dalam yohanes 4:9. Orang Yahudi dan Samaria memiliki konflik yang cukup Panjang dimulai ketika bangsa Israel kembali dari pembuangan. Dalam Ezra 4:1-3 Orang Yahudi menolak partisipasi Samaria dalam pembangunan kembali Bait Suci setelah pembuangan Babel. Oleh karena itu mereka tidak hanya tidak saling bergaul, tetapi tidak saling peduli, dan bahkan cenderung berselisih.

  

Ketika Yesus memasuki sebuah desa datanglah sepuluh orang kusta menemui Dia. Mereka berdiri agak jauh dan berteriak “Yesus, Guru, Kasihanilah kami. Orang kusta berdiri agak jauh dan berteriak karena seseorang yang mengalami penyakit kusta harus dipisahkan. Merea tinggal diluar kota atau perkemahan, pakaian mereka harus disobobek, rambut terurai, dan mereka diwajibkan menutup mulut serta teriak najis, najis setiap kali ada orang yang mendekat. Kata “kasihanilah” dalam bahasa Yunani yaitu “eleeo” yang diterjemahkan dari Bahasa ibrani hesed yang berarti kasih saying, kasih tanpa balas, yang ditunjukkan kepada seseorang meskipun orang itu tidak layak menerimanya, atau dapat juga berarti kebaikan. Pemikiran Allah terhadap manusia sehubungan dengan kesalahan manusia, ialah kasih karunia, sedangkan pemikiran-Nya terhadap manusia sehubungan dengan kesengsaraan manusia ialah kasih saying atau belas kasih. Para Nabi menajarkan, setiap orang yang mengalami belas kasih Allah dalam hidupnya, wajib menunjukkan belas kasih itu kepada orang yang membutuhkannya, terutama anak yatim, janda dan orang asing’, yang berkali-kali disebut sama-sama (mis Ul 10:18; 14:9; 16:11). Teriakan ini dapat berarti pengakuan putus asa bahwa mereka tidak dapat menolong diri mereka sendiri dan sangat bergantung pada Allah. Dari hal ini kita dapat memahami bahwa penderitaan yang mereka alami sangat berat. Tidak hanya kesakitan fisik yang mereka rasakan, tetapi mental, dan juga spiritual. Ada keinginan dan kerinduan yang begitu besar untuk mengalami Hesed yakni belas kasihan Tuhan, pertolongan dan menerima perlakuan kasih yang begitu mendalam seperti kasih Tuhan.

Salah satu yang menarik bahwa Injil Lukas mencatat kata yang digunakan oleh orang kusta tersebut  tidak menggunakan kata sembuhkanlah tetapi memakai kata kasihanilah. Kata kasihanilah berarti mereka benar-benar merindukan perlakukan kasih yang mendalam belas kasihan seperti dari Tuhan, bukan hanya sekedar kesembuhan, mereka merindukan perjumpaan dan kerindukan akan belas kasihan, pertolongan, seperti kasih Tuhan. Reaksi Yesus dalam pembacaan ini, yaitu memerintahkan mereka untuk pergi memperlihatkan diri kepada imam-imam. Dalam kitab Imamat 13, Imam memiliki tugas untuk memeriksa dan menentukan apakah orang kusta tersebut Sudah sembuh. Seketika mereka menuruti perintah itu dan sebelum sampai kepada iman mereka sembuh dan kembali kepada Yesus.

Orang kusta samaria yang mengucap syukur. Dari sepuluh orang kusta yang menjadi tahir, salah satu diantaranya ialah orang samaria, ia kembali kepada Yesus, tersungkur, didepan kaki Yesus dan mengucapsyukur kepada-Nya. Mungkin kita kesal terhadap apa yang diperlakukan kesembilan orang kusta yang telah sembuh terbut karena mareka tidak kembali untuk mengucapkan terimakasih, tetapi itulah belas kasih, harus dinyatakan kepada orang lain, tanpa menuntut balas. Walaupun demikian hal yang utama adalah bahwa mereka telah menerima belas kasihan dari Yesus. Pelayanan Yesus kepada orang kusta dalam pembacaan ini tidak hanya memberi teladan, tetapi memberi pengajaran penting bahwa Yesus datang untuk menunjukkan belas kasihan Tuhan kepada ciptaannya, termasuk manusia. Dalam pembacaan ini orang kusta adalah kita manusia berdosa yang telah kehilangan kemuliaan Allah, yang oleh karena Dosa kita mengalami penderitaan, lalu diselamatkan dalam kebangkitan Yesus Kristus.

Diakhir pembacaan ini, Yesus bepesan kepada orang Kusta samaria itu berdirilah, dan pergilah, imanmu telah menyelamatkan engkau. Berdiri dan pergilah adalah adalah perintah Yesus untuk berjalan dalam damai dan jalani kehidupan yang baru, kehidupan yang penuh harapan. Iman yang telah menyelamatkan engkau berarti iman yang sungguh percaya, setia, dan bersandar penuh harapan kepada Tuhan yang telah menyembuhkan tidak hanya kesembuhan fisik, tetapi mental, maupun spiritual. Sehingga orang kusta samaria ini datang kepada Yesus untuk mengucapsyukur. Kasih dan Belas kasihan adalah dasar pelayanan Yesus untuk menyelamatkan, sedangkan iman adalah dasar dari pemulihan umat Tuhan secara utuh, jika hari ini kita sembuh secara fisik itu semua karena belas kasihan Tuhan, tetapi untuk pulih secara utuh mental dan spiritual kita perlu iman yang percaya, setia dan bersandar kepada Tuhan.

           

 

Pembacaan kita hari ini mengajak kita untuk meneladani dan memaknai pelayanan Yesus dalam kehidupan yang Tuhan anugrahkan kepada kita saat ini. Hal ini berarti pelayanan merupakan panggilan kepada kita yang telah menerima keselamatan dari Tuhan. Pelayanan ini biasa disebut dengan istilah Diakonia dari Bahasa Yunani yang berarti “pelayanan”. Dalam perkembangannya gereja mengenal istilah Diakonia karitatif, pelayanan amal atau pelayanan langsung untuk merespons kebutuhan mendesak seperti; kelemahan tubuh karena sakit, bencana alam, dan pengobatan gratis. Diakonia reformatif atau pelayanan untuk memberdayakan umat agar mandiri dan keluar dari masalah sosial dengan cara pendidikan atau keterampilan. Berikutnya adalah Diakonia transformatif, yaitu pelayanan berupa memperjuangkan keadian sosial kesetaraan melalui tatanan masyarakat lebih baik, sehingga secara terencana dan sistematis permasalahan sosial dapat teratasi.

Diakonia Gereja harus didasari oleh Kasih, Kasih Allah yang besar kepada ciptaanya. Kasih Allah terlihat dari Firman yang hidup yaitu Yesus Kristus. Dalam pembacaan kita hari ini Yesus memberikan teladan bagaimana diakonia dihidupi dan dilakukan oleh gereja ditengah-tengah dunia ini. Yesus melewati perbatasan samaria dan galilea, perbatasan yang sering kali membuat kita tidak peduli, mengabaikan, bahkan menghindari sesama, dengan berbagai alasan perbedaan atau keterbatasan. Pembatas itu bisa karena perbedaan pendapat, konflik masa lalu, status sosial, ekonomi, bahkan perbedaan dalam kepercayaan atau agama. Padahal disana kita kita bisa menemukan mereka yang sedang mengalami krisis fisik, mental, bahkan spiritual.

Dalam menghadapi berbagai krisis, seseorang seringkali kehilangan harapan. Manusia mempertanyakan kehadiran dan perhatian sesama, lembaga, organisasi, bahkan Tuhan. Dalam keadaan tersebut seseorang dapat saja menjadi kecewa, marah, kehilangan kepercayaan kepada Tuhan, bahkan putus asa. Diakonia gereja yang dilandaasi kasih Alllah didalam Yesus Firman yang hidup dan tuntutan roh kudus, diingatkan untuk lebih aktif melakukan pelayanan Diakonia, sekalipun itu harus meliwati perbatasan untuk menjumpai dan melayani jemaat yang mungkin selama ini jarang kegereja, disudut-sudut kota tetapi hidup dalam kemiskinan dan diabaikan oleh keluarga, bahkan mereka yang berbeda agama atau suku yang jarang kita jumpai. Diakonia seperti itu akan membangkitkan dan menghidupkan harapan hidup yang lebih baik, hidup damai sejahtera.

 

Aplikasi

 

            Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) mengatakan bahwa saat ini kita menghadapi polikrisis seperti krisis ekologi atau lingkungan hidup, krisis keluarga dimana terjadi kekerasan dan perpecahan, krisis pendidikan, tantangan bagi sekolah Kristen, krisis demokrasi, dan krisis oikoumene atau nasionalisme dimana kita diperhadapkan dengan perpecahan antar kelompok, bahkan ada krisis ekonomi, kesehatan dan lain sebagainya. Diakonia sebagai bentuk jawaban panggilan Tuhan bagi umatnya, kita ingatkan untuk terus menggumuli panggilan ini. Gereja dipanggil untuk berdiakonia ditengah krisis yang dihadapi oleh manusia. Kita yang telah menerima Kasih untuk beroleh keselamatan, kita dipanggil untuk menyatakan belas kasihan kepada sesama melalui pelayanan diakonia, baik karitatif, reformatif, maupun transformatif.

            Saat ini baik warga jemaat maupun keluar jemaat bahkan kita sendiri menghadapi krisis. Baik mereka yang rajin ke gereja untuk beribadah maupun yang jarang atau bahkan sudah tidak pernah kegereja, baik karena sakit, maupun karena pergumulan yang berat lainnya. Kita, baik sebagai individu maupun persekutuan gereja dipanggil dan diingatkan melalu pembacaan alkitab hari ini untuk lebih peka, aktif, bertemu serta melayani mereka yang menghadapi krisis, kebigungan, dan putus asa, mereka yang merindukan pelayanan, mereka yang diabaikan oleh lingkungan, bahkan diabaikan.

            Jika karya keselamatan Allah yang didasari oleh Kasih Allah didalam kematian dan kebangkitan kristus telah mebangkitkan harapan kita manusia berdosa, serta pelayanan Yesus kepada orang kusta membangkitkan harapan orang kusta Samaria, maka pelayanan diakonia kita hari ini yang didasari belas kasih kiranya akan membangkitkan harapan kepada orang-orang yang lemah.

 

Beberapa pertanyaan untuk diskusi

1.     Bagaimana pandangan bapak/ibu tentang pentingnya pelayanan Diakonia gereja?

2.     Apa saja kendala pelayanan diakonia Gereja?

3.     Apa bentuk diakonia gereja yang perlu dikembangkan saat ini?

← Kembali ke Warta